Thursday, 8 May 2014

Jejak Cerita Pelangi Kehidupan

Malam itu tiba-tiba jantungku berlari cepat, bukan karena aku kelelahan setelah mendaki Gunung Purba di (luar) kota yang ku diami sekarang, tapi karena ponselku berbunyi, kamu menelponku. Sebenarnya hanya peristiwa sederhana, kamu menelponku, ya, hanya itu. Kamu tahu masih gugupnya aku ketika setiap kamu menghubungiku, walaupun itu hanya satu kali seminggu, bahkan pernah lebih dari 3 minggu tak ada pun kabar.
Selama ini, selama aku di kota ini, aku berusaha untuk tidak menghubungimu lebih dulu. Karena apa? Ya mungkin kamu lebih tahu alasannya..
Setelah satu tahun, rasanya baru kemarin kita berpisah. Aku selalu mencoba menerima bahwa kita kini tak lagi sama. Aku selalu mencoba menerima kenyataan bahwa aku yang berjuang dulu mempertahankan hubungan kita, kini sia-sia..

Dengan mata yang terkantuk-kantuk aku menulis ini sehabis mengerjakan tugas kuliahku, sederet tugas yang tiap malamnya menjadikan mataku selalu terjaga, dan ponsel yang juga selalu terjaga menunggu kabar darimu. Tiba-tiba aku ingin menulis tentang kamu.

Gara-gara menulis ini, aku kembali mengingat awal perkenalan kita yang manis, "Tak ada yang istimewa memang" (kalimat yang kau muat di blog-mu tentang aku).
Rasanya baru kemarin kamu meminta nick akun twitterku, awal percakapan yang sederhana, sesederhana nick twitterku seperti yang kau bilang waktu itu, "Hanya ini? hanya 3 huruf?".
Ya.. Aku terlalu mencintai kesederhanaan. Hingga mencintaimu pun dengan kesederhanaan, seperti yang kau bilang padaku "Terimakasih karena kau telah mencintaiku sesederhana mungkin". Dibalik kesederhanaanku ini, kamu juga bilang, aku juga seorang wanita dewasa yang bahkan lebih dewasa dari dirimu sendiri yang terkadang lebih manja kepadaku. Berbicara tentang manja, aku jadi ingat ketika aku memperdengarkan suara manjaku via telepon hanya sekedar untuk membangunkanmu di tiap pagi yang luar biasa. Aku yang dulu manjanya minta ampun, tapi itu hanya sikap, aku suka bermanja denganmu, aku suka itu, sayang. Aku ingat ketika aku marah, kau membujukku dengan mengajakku makan di tempat favoritku. Aku ingat, ketika mengingatkan jadwal kegiatan-kegiatanmu yang terkadang kamu sendiri tak mampu mengingatnya, padahal  kegiatanku pun juga tak kalah banyak dengan tingkat kepadatan tinggi. Tapi mengapa aku masih bisa meluangkan sedikit waktuku untuk mengingatkanmu walau hanya sekedar makan siang saja??? Jawabannya ada pada kesederhanaan itu sendiri.

Begitu unik awal lelucon kita dari saling follow twitter, berbalas mention, lalu kamu meminta nomor handphone-ku untuk melanjutkan bisnis kita; TARUHAN BOLA! Awal yang unik sampai akhirnya kita berkomitmen pada sebuah keseriusan yang tidak pernah kita duga sebelumnya, di warung Bu Anis, malam itu, 10 Mei 2012.

Rasanya baru kemarin aku jadi pemateri di salah satu kegiatan organisasi yang mempertemukan kita, pemateri yang kau bilang fotogenic (mungkin karena memang tugasmu untuk mengabadikan kegiatan-kegiatan penting hari itu). Awalnya tidak saling sapa, jangankan saling sapa, saling menatap pun tidak. Kamera itu menyorot kepadaku, aku pura-pura tidak tahu, tapi aku merasa ada yang berbeda dari sorotan itu. Setelah hari itu, kamu menyukai setiap kali aku tersenyum, memandang dan berbicara, aku juga yang akhirnya membuatmu jatuh cinta (pernyataan di blog-mu tentang aku yang kamu publish tanggal 19 Pebruari 2013, di hari istimewaku, yang ku awali dengan tetesan air mata bahagia karena tulisanmu). Satu kalimat yang paling aku suka dan paling aku ingat dari beberapa pernyataanmu yang lain, "Dia sosok wanita yang agak manja namun mandiri, sedikit lembut namun pencemburu, penyayang namun pemberani." Kalimat yang menginspirasiku hingga aku menjadi seperti sekarang.
Beberapa kali kamu menuliskan tentang aku di blog-mu. Jadi, bukankah tidak salah jika aku menuliskan tentangmu kali ini, walau hanya kali ini.

Awalnya kita percaya, perlu masalah untuk menciptakan keharmonisan dalam suatu hubungan, perlu kedewasaan dalam menjalaninya, perlu perbedaan indah yang awalnya kita banggakan, tetapi pada akhirnya menyalahkan perbedaan itu sendiri. Ada pada suatu ketika, kau menemukan sms dari mantanku di handphoneku, lalu kamu lempar handphoneku dihadapan teman-temanmu? Ketika pertengkaran, yang katamu, menjadikan kita saling kenal dan mengetahui hal apa saja yang kita sukai dan tidak sukai, mendewasakan kita dalam setiap kerumitan masalah yang kita hadapi berdua. Tapi apa? Kenyataannya sekarang bagaimana? Lihatlah..

Cukup. Jangan tanyakan keadaanku sekarang bagaimana, aku baik-baik saja, ya, aku baik-baik saja.. 
Kau tidak bodoh meninggalkanku seperti yang teman-teman katakan bahwa hanya laki-laki bodoh yang meninggalkanku. Sekali lagi aku katakan, kamu tidak bodoh, sayang. Kamu hanya terlalu banyak alasan untuk itu.

Ingatkah, betapa iri mereka yang melihat kenyataan perasaan dan laku bercinta kita di setiap waktu perjumpaan? Ingatkah, alasanmu sangat mengagumiku? Ingatkah, kita yang bersama menanti kebahagiaan? Ingatkah, kamu menunggu aku dengan setia ketika aku sidang skripsi, memberi semangat tanpa henti? Terlalu banyak yang kita lalui selama kita kuliah. Sampai ketika aku memutuskan untuk bekerja setelah lulus kuliah (keputusan yang berat memang). Kenapa keputusan yang berat? karena aku takut aku jadi lebih banyak di kantor, jarang bertemu kamu, jadi lebih jarang memperhatikanmu, mungkin aku menjadi terlalu sibuk, dan itulah kenyataan akhirnya, aku lebih sibuk mengurus pekerjaanku dibandingkan memperhatikanmu. Aku minta maaf untuk itu. 

Setiap mengingat ini, rasanya aku ingin menangis, janjimu yang terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Jelaskan padaku, mengapa semua jadi serumit ini? Perjuangan kita yang habis-habisan tahun lalu, perjuangan kamu, perjuangan aku, kita yang sama-sama berjuang, 'Mama' dan 'Abah' di Barikin pun mendo'akan agar hubungan kita selalu baik-baik saja. Aku jadi rindu mereka, rindu orangtuamu yang juga kuanggap orangtuaku, mata beliau yang melihatku dalam, tatap mata dengan banyak harap seperti tatapanmu dulu ketika awal hubungan kita.

Terimakasih atas perjuanganmu selama ini, hanyonk.. Jika kita tidak 'berjuang' waktu itu, mungkin aku tidak akan jadi seperti ini..

Ditulis di Yogyakarta, 20 April 2014

No comments:

Post a Comment