Tatapan mataku kosong saat aku menatap monitor laptop ku, entah aku ingin menulis apa dan mengungkapkan apa, sekedar menyatakan perasaan kah? Atau mengungkapkan ingin di hati yang cukup lama tersimpan dan tak bisa ku sampaikan...
Ingin sekali aku menulis sebuah puisi seperti wanita lainnya, tapi berat bagiku untuk merangkai kata..
Satu bait pun aku tak bisa, apalagi untuk merangkai menjadi sebuah lagu..
Inilah hal yg paling berani dilakukan seorang seperti aku ini, duduk manis di depan laptop sambil menekan-nekan tuts keyboard..
Keinginan menulis hal seperti ini yang sebenarnya dari dulu aku niatkan..
Bagiku hidup adalah sebuah rahasia. Hidup, mati, tua, muda, datang silih berganti..
Pergerakan dari satu titik menuju titik yang lain, perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain..
Berbagai peristiwa dan kejadian berlalu, berputar, dan ada yang terulang kembali, kadang saling mengkait, kadang bertentangan..
Gembira, senang, sedih, jatuh cinta, patah hati, datang untuk kemudian pergi, pergi untuk kemudian datang lagi..
Berjalan kadang naik, kadang turun, kadang lurus, kadang berbelok, kadang mulus, kadang terjal, kadang bertabur bunga, kadang bersemak duri, yang tidak jarang tajamnya menggoreskan luka..
Pernahkah merasakan, ketika kita senang, kita juga memendam kepedihan diam-diam?
Pernah juga kah ketika kita sedih, disaat terkurung oleh sunyi atau dihantam badai persoalan, kita malah merasakan bahagia?
Aneh memang, tapi begitulah kehidupan, kehidupan yang ketika kita hanyut didalamnya, kita akan merasakan bagaimana dunia begitu berarti dan segala-galanya..
Tapi setelah kita memaknainya kembali, maka dia menjadi tidak ada apa-apanya..
Kehidupan dunia adalah kancah tempat kita bertarung, mengejar, meraih, dan menggapai..
Dia adalah suatu kenyataan yang tidak datang tanpa diminta ketersediaanya..
Ketika pertama aku mengenal jangan tanyakan soal 'rasa' aku terhadapmu, cukup singkat sebenarnya waktu dan intensitas yang pernah ku lakukan yang berkaitan denganmu..
Tapi semua kejadian, semua sikap, semua ucapan, semua peristiwa, ternyata tidak hilang begitu saja..
Sampai ketika aku sadar, aku telah terjangkit virus 'rasa' itu, akupun tak bisa menghindar dari perasaan bersalah..
Bagaimana tidak disalahkan, kalau sesuatu yang awalnya dibangun di atas pondasi yang bernama pertemanan, antara seorang adik tingkat dengan kakak tingkatnya, kemudian berubah, karena sesuatu itu telah bergerak di luar batas-batas pondasinya?
Yang dalam banyak kasus tidak jarang akan merusak pondasi itu sendiri, dan bila pondasi itu rusak, maka robohlah bangunan di atasnya..
Aku mengakui apa adanya seperti yang ku rasakan..
Dengan waktu yang terus berputar dalam diamku, dengan pikiran yang tenang, dan akal yang masih berjalan, aku coba memikirkan, ini harus bagaimana..
Dengan segala pertimbangan, ku coba menentukan apakah perasaan ini hanya akan aku pendam saja, atau lebih baik aku sampaikan?
Sempat terlintas..
Ya sudah, lebih baik ku pendam saja, anggap saja sebagai sebuah catatan manis di dalam dunia khayalku yang akan aku bawa ke pojok-pojok lamunan ku..
Tapi sampai kapan?
Sebenarnya cukup dalam kegetiran yang ku rasakan selama ini, karena aku tidak mau membawa masalah ini sendiri selamanya..
Aku berharap kamu bisa membantu ku menemukan jalan yang terbaik, keputusan apapun itu yang menurutmu itu adalah yang terbaik, akan aku terima..
Walaupun pernah terasa perih saat kmu cerita kepadaku tentang kekasih mu itu, ku coba bertahan, mendengarkan, dan memberikan tanggapan, tak pernah kah kamu melihat betapa gugupnya aku ketika kita bertemu..
Seperti balasan sms yang ku kirim malam ini..
Percayalah, cinta ku tulus..
Dan aku rindu..
#maaf yee 'membatin' tengah malem gini..
:)
No comments:
Post a Comment